Diferential Optima Pembudidaya Skala Kecil

Enam bulan berikutnya mereka meneruskan unit kelola budidaya yang menekankan agar bisa panen. Disini memerlukan konsistensi bagi pembudidaya agar benar-benar memelihara unit budidayanya yang dalam bentuk keramba ketam dan rumah lebah bisa di panen.
Masuk tahun ke dua, peningkatan skala produksi perlu ditingkatkan agar bisa mencapai titik efisien dan efektif dalam budidaya. Dalam rangka menuju titik keseimbangan ini, perlu menghitung bahwa setiap kegiatan ekonomi memiliki skala optimum yang berbeda-beda. Unit rumah tangga memiliki skala optimum kecil, berbeda dengan unit industri yang memiliki skala optimum lebih besar. kalau meminjam istilah dari Chayanov, ini yang disebut dengan Diferential optima. Skala pembudidaya kecil ini seperti halnya unit produksi pertanian keluarga, titik optimalnya kecil. Rumah tangga pembudidaya mengatur tenaga kerja sesuai kebutuhan keluarga, tanpa orientasi akumulasi kapital.

Dengan melihat nature budidaya tingkat keluarga, berbudidaya di tingkat keluarga cukup dengan skala kecil. Rumah tangga pembudidaya kecil biasanya mengelola lahan sempit atau dalam konteks budidaya ketam di langir, keramba kepitingnya jumlahnya sedikit. Selain itu, tenaga kerja dalam budidaya ini hanya memaksimalkan anggota keluarga. Dengan unit budidaya yang tidak efektif dan efisien kalau skala terlalu besar. Bertani atau berbudidaya skala besar menambah biaya tenaga kerja dan menyulitkan untuk dikelola.
Namun, masalah yang sering muncul dalam pembudidaya atau petani kecil adalah tidak bisa menjangkau titik optimal di kegiatan non-budidaya (misalnya pemasaran, input budidaya dan distribusi). Akibat dari hal ini adalah mereka menjual hasil panen dalam jumlah kecil dengan harga rendah, selain itu mereka membeli bibit atau input budidaya dalam jumlah kecil disertai dengan harga yang lebih mahal. Nilai tambah terserap oleh pedagang perantara dan peran kapitalis lainnya, bukan oleh pembudidaya atau petani.

Koperasi berperan dalam penyediaan input budidaya secara kolektif. Sehingga belanja input bisa dalam skala lebih besar dan ini bisa lebih efisien pada setiap rumah tangga pembudidaya. Koperasi bisa berperan sebagai aggregator hasil produksi, sehingga produk bisa dalam skala besar dan dapat memiliki posisi tawar yang lebih tinggi di hadapan pembeli. Peran budidaya tetap berada di rumah tangga pembudidaya, hal ini tidak akan mengganggu kemandirian petani namun sekaligus memberi mereka keuntungan dengan menekan biaya input dan meningkatkan harga jual produk. Peluang ini yang dapat meningkatkan keuntungan bagi pembudidaya kecil.
Pada dua paragraf terakhir sebelum paragraf yang paling ini adalah mimpi bagi pembudidaya ketam dan lebah madu di desa langir yang hari ini masih terus menguatkan teknik budidayanya dan terus menjaga ikatan kolektif sebagai modalitas untuk “jembatan” dalam bentuk koperasi agar kondisi produksi lebih efisien dan mencapai differential optima yang besar.