Potensi Budidaya Kepiting Bakau: Cerita dari Desa Langir

Bagikan:

Pada umumnya, tidak semua manusia mengetahui bahwa keberadaan ekosistem mangrove membawa manfaat yang beragam. Di pesisir Desa Langir Kecamatan Palmatak, Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau, memiliki kawasan ekosistem mangrove yang luasnya mencapai 827,55 ha (Kawungpitu, 2024). Namun, mayoritas masyarakat di sana justru menganggap bahwa ekosistem mangrove menjadi pengganggu. Hal ini diakui oleh Bang Rahim,  salah satu warga Desa Langir saat berbagi cerita tentang pandangan masyarakat di sana terkait keberadaan mangrove. “Kita di sini dulu masih suka nebang mangrove yang bagian dekat pesisir, soalnya itu bikin banyak anggas (nyamuk), trus juga mengganggu aktivitas kita di sini” ujarnya.

Ekosistem mangrove selain melindungi pantai dari gelombang dan angin merupakan tempat yang dipenuhi pula oleh berbagai jenis biota lain seperti mamalia, amfibi, reptil, burung, kepiting, ikan, primata, dan serangga (Talib, 2008). Penebangan pohon mangrove yang dilakukan dapat mengakibatkan penurunan pada populasi Kepiting Bakau (Scylla sp.). Padahal, kepiting atau ketam bakau dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir. Upaya penangkapan kepiting bakau dapat dioptimalkan melalui pemacuan stok yang meliputi perbaikan habitat dan restocking (Agus et al., 2011). Salah satu contoh upaya lainnya adalah melakukan kegiatan budidaya kepiting bakau. Seperti yang sedang diselenggarakan oleh Kawungpitu Institute melalui program SUAR, budidaya kepiting bakau dapat menjadi solusi yang berkelanjutan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir sekaligus melestarikan ekosistem mangrove. Dengan mengintegrasikan konservasi mangrove dan budidaya kepiting bakau, kita dapat menciptakan penghidupan yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat, sekaligus menjaga kelestarian alam dan mendukung keragaman hayati di wilayah pesisir.

Kepiting bakau merupakan salah satu potensi unggul yang dimiliki Desa Langir. Sebelumnya, masyarakat di sini hanya mengenal kepiting bakau sebagai hasil tangkapan laut yang langsung dijual. Hal ini diceritakan oleh Bang Rahim, “Kami baru baru ini memulai budidaya kepiting bakau, sebelumnya hanya tangkap langsung jual.” ungkap Bang Rahim. Masyarakat Desa Langir memiliki minat yang tinggi untuk lebih memahami potensi kepiting bakau melalui kegiatan budidaya. Kini, dengan bimbingan dan pendampingan yang diberikan oleh kawungpitu, mereka mulai merambah ke dalam dunia budidaya kepiting bakau yang lebih berkelanjutan dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Kegiatan budidaya kepiting bakau terus berjalan dengan baik karena didasari oleh keinginan masyarakat itu sendiri. Ini menunjukkan bahwa program SUAR tidak hanya membuka peluang ekonomi dan keberlanjutan, tetapi juga membawa perubahan dalam pola pikir masyarakat. Melalui program penguatan kapasitas kelompok masyarakat dan pendampingan yang intensif, terjadi perubahan pola pandang masyarakat terkait ekosistem mangrove. “Dari banyaknya kegiatan yang dilakukan, mulai dari sosialisasi sampai pembelajaran untuk bekal budidaya ketam bakau, kami jadi sadar bahwa ternyata ekosistem mangrove itu penting dan bisa mendukung kehidupan kami disini karena membawa manfaat yang beragam, dan membawa dampak baik untuk ekonomi kami.” ujar Bang Rahim. Perubahan persepsi ini membawa dampak positif, bukan hanya bagi keberlangsungan budidaya kepiting bakau, tetapi juga bagi kelestarian ekosistem mangrove.

Proses Pembelajaran dan Tantangan dalam Budidaya
Dalam proses kegiatan budidaya kepiting bakau, banyak hal baru yang dipelajari oleh kelompok budidaya (Pokdaya) di Desa Langir, terutama dalam hal teknis budidaya yang lebih efektif. Kami melakukan pembelajaran dengan konsep praktik, yaitu “Sekolah Lapangan Budidaya Ketam”. Kegiatan ini merangkum beberapa pembelajaran secara teknis, yaitu pemetaan habitat yang baik, perancangan dan pembangunan keramba apung, hingga teknik mempercepat pembesaran kepiting bakau. Bang Rahim menjelaskan bahwa walaupun belum pada tahap panen, Pokdaya mereka sudah melewati banyak proses. “Kami sudah melakukan banyak proses dari mulai penanganan bibit kepiting bakau, pemetaan habitat sumber bibit kepiting bakau, perancangan keramba apung, belajar teknik mempercepat pembesaran kepiting bakau, hingga pemantauan fisika dan kimia habitat kepiting bakau, hingga saat ini ada ditahap pemeliharaan,” jelasnya. Proses yang telah dijalankan ini juga membawa dampak positif bagi masyarakat sekitar. Secara tidak langsung, banyak warga yang kini mulai tertarik dan memahami potensi budidaya kepiting bakau sebagai usaha yang menguntungkan dan berkelanjutan. “Banyaknya proses yang sudah kami lakukan secara tidak langsung membuka mata masyarakat sekitar dan kelompok lainnya dalam melakukan budidaya kepiting bakau,” tambahnya.

Meski demikian, perjalanan ini tidaklah tanpa tantangan. Bang Rahim juga menceritakan adanya tantangan atau kendala yang mereka hadapi, yaitu masih kesulitan melakukan pemetaan habitat yang ideal untuk budidaya kepiting bakau dan juga cara atau proses pemijahan yang efektif. Meskipun demikian, mereka tetap optimis dan terus berupaya untuk menemukan solusi terbaik dengan terus belajar dan berdiskusi. Kondisi alam di sekitar mereka juga mempengaruhi jalannya budidaya. “Kondisi mangrove di sini kalau dilihat secara kasat mata memang ada yang tidak bagus, tetapi tidak banyak. Kualitas airnya masih baik dan mendukung untuk kegiatan budidaya,” ungkapnya. Hal ini memberikan harapan bahwa meskipun ada tantangan, potensi alam yang ada masih sangat mendukung keberhasilan budidaya kepiting bakau.

Harapan untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Dengan berbagai proses yang telah dilakukan dan dukungan serta pendampingan penuh dari Kawungpitu, masyarakat Desa Langir kini memiliki harapan besar untuk masa depan yang lebih baik. Melalui budidaya kepiting bakau yang berkelanjutan, mereka tidak hanya berusaha meningkatkan ekonomi, tetapi juga turut menjaga dan memanfaatkan sumber daya lokal, terutama ekosistem mangrove yang memiliki peran sangat penting.

Harapan terbesar dari kelompok budidaya ini adalah menjadikan mereka sebagai produsen kepiting bakau terbesar di desa tersebut. “Harapan kelompok kami sesuai dengan misi kami dari awal yaitu menjalankan budidaya ini agar menjadi produsen kepiting bakau terbesar di sini,” ujar Bang Rahim dengan penuh semangat.Cerita dari salah satu anggota kelompok budidaya ini merupakan gambaran nyata dari semangat perubahan yang tengah terjadi di Desa Langir. Berkat pendampingan yang tepat dan komitmen kuat dari masyarakat, budidaya kepiting bakau di Desa Langir ini bukan hanya menjadi peluang ekonomi, tetapi juga cara untuk melestarikan alam bagi generasi yang akan datang. Dengan langkah-langkah yang terus diambil, tak diragukan lagi bahwa Desa Langir akan semakin maju, dan harapan untuk menjadi produsen kepiting bakau terbesar di wilayah ini pun semakin mendekat.

Referensi:

Agus. A., Sentosa., A.R. Syam. 2011. Sebaran temporal faktor kondisi kepiting bakau (Scylla serrata) di Perairan Pantai Mayangan, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Jurnal Perikanan. 13(1): 35-43.

Talib, M.F. 2008. Struktur dan pola zonasi (Sebaran) mangrove serta makrozoobenthos yang berkoeksistensi, di Desa Tanah Merah dan Oebelo Kecil Kabupaten Kupang. Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.