Kisah Kepiting dan Pola Pikir Yang Berubah

Oleh: Bayu Aji Krisandi – Fasilitator Lapangan Program Scalling Up Anambas Rural Smallholder (SUAR)

Pencarian Pengetahuan yang Belum Usai (bagian 1)

Di bawah langit pekat Desa Langir, jarum jam mengarah pada pukul delapan malam. Udara dingin menyelimuti, namun semangat para anggota kelompok pembudidaya (Pokdaya) kepiting tak surut. Malam itu, lima jongkong kecil (perahu jenis kano) meluncur perlahan menyusuri air yang tenang. Dua orang di setiap jongkong, membawa bubu perangkap ketam di depan. Saya bersama Pak Cik Karim. Kami saling bergantian mendayung, memecah keheningan dengan suara dayung yang menyentuh air. Cahaya lampu senter kepala menari di atas air, menciptakan bayangan yang seolah menceritakan kisah leluhur mereka—kisah hidup yang berpadu dengan alam.

Hari ini, Pokdaya akan melakukan pemetaan habitat sumber bibit ketam bakau. Mereka melakukan pemasangan bubu perangkap di hutan bakau yang ada di Langir.  Areanya dapat dibilang cukup luas, mencapai 827,55 ha yang terdiri dari air tunggu, wasi, tanjung balau, tanjung sebuyung, nggoso, dan sungai tukong. Aktivitas pemetaan ini menjadi bagian penting dalam upaya menemukan habitat yang menjadi sumber bibit ketam bakau yang nantinya akan dibesarkan di keramba apung.

Anggota pokdaya mendayung jongkong menuju area hutan bakau. Foto: Bayu Aji Krisandi/Kawungpitu

“Gelap sekali ini, bang”, sayup-sayup terdengar suara dari jongkong depan. “Tenang, Gus. Kau kebanyakan nonton film horror. Ini hanya bakau. Kalau ada suara aneh, itu hanya angin atau mungkin…. ketam besar” canda Adin, mencoba mencairkan suasana. Agus mengaku memang sepanjang umurnya, ini adalah kali pertama ia menyusuri hutan bakau di Sungai Tukong. Wajar was-was. Setiap bayangan bakau yang bergerak terasa seperti ada sesuatu yang mengawasinya. Namun, ia berusaha menghilangkan rasa takutnya. Karena malam ini, ia bersama anggota pokdaya sedang memetakan habitat sumber bibit ketam bawang atau kepiting bakau.

Jongkong terus melaju ke area hutan bakau. Setelah mencapai titik-titik yang telah ditentukan, masing-masing pasangan dalam jongkong memisahkan diri ke arah yang berbeda. Tanpa cahaya bulan, hanya gelap pekat yang menyelimuti, bergantung pada senter kepala yang terus menyala. Suara serangga malam berpadu dengan bunyi dayung yang menepuk air perlahan, seolah menjadi latar musik perjalanan ini.

Agus dan Adin mendayung jongkong hingga mereka berhenti di sisi tegakan bakau. “Kita pasang di sini, Bang Din?” tanya Agus, suaranya terdengar sedikit gemetar. Adin mengangguk, menarik bubu di depannya, lalu menyiapkannya dengan hati-hati. Ikan buntit hasil tangkapan sore hari, ditancapkan pada besi yang ada di dalam bubu. “Ini ikan masih segar, Gus. Hasil ngedik (dalam Bahasa: memancing ikan) tadi sore di Pelabuhan. Pasti ketam-ketam tergoda” jelas Adin sambil memberikan bubu kepada Agus. Dengan cepat Agus menenggelamkan bubu perangkap ke dalam air lalu mengaitkan tali pada akar bakau yang bisa diraihnya.

Sementara itu, di tempat lain, Pak Musa bersama Pandi yang lebih berpengalaman bekerja dengan cekatan. Mereka sangat yakin di mana harus memasang bubu agar mendapatkan hasil sesuai harapan. “Pasang sedikit lebih ke dalam,” ujar Pak Musa. “Biasanya dia (ketam bakau) suka bersembunyi di akar-akar yang rapat.”

Anggota Pokdaya sedang memasang bubu perangkap ketam di hutan bakau. Foto: Bayu Aji Krisandi/Kawungpitu

Rahim, yang mendayung jongkong bersama Sabran atau akrab dipanggil Bang Kancil, memilih untuk memeriksa sekitar lebih dulu. Ia ingin memastikan bahwa perangkap yang mereka pasang tidak merusak akar bakau. “Kita harus hati-hati, Bang Cil. Jangan sampai kita merusak bakau. Ini rumahnya mereka,” ucapnya sambil menepuk-nepuk air dengan dayung. Sementara saya dan Pak Cik, juga harus memasang bubu perangkap yang sisa 1 lagi.

Setelah semua bubu terpasang, kami kembali berkumpul di titik awal. Adin menepuk pundak Agus. “Nggak seram kan, Gus? Bahkan kamu berhasil memasang bubu sendiri,” ujarnya sambil tertawa kecil. Agus tersenyum canggung, merasa sedikit lega meskipun matanya masih terus mengawasi bayangan-bayangan yang bergerak di sekitarnya.

Malam itu, setelah selesai memasang bubu dan kembali di pelabuhan, kami memutuskan untuk langsung kembali ke rumah masing-masing. Dalam perjalanan pulang, anggota pokdaya berdiskusi tentang rencana untuk mengambil bubu keesokan harinya. Rahim mengingatkan, “Besok kita harus berangkat pagi. Kalau kesiangan takut air surut, kita payah mengayuh jongkongnya”. Semua mengangguk setuju, merasa lega telah menyelesaikan misi malam itu.

Keesokan harinya, matahari tampak sudah memantulkan sinarnya di permukaan air. Para nelayan sudah bersiap dengan pompong (perahu motor) dan seperangkat alat untuk menangkap ikan. Saya bersama anggota pokdaya juga mulai bergerak ke area hutan bakau. Jongkong yang sama membawa kami menuju perangkap-perangkap yang telah dipasang semalam. Satu per satu benang ditarik, ketam-ketam terlihat meronta di dalam bubu perangkap yang diangkat. Semua hasil tangkapan dibawa ke rumah tunggu di pelabuhan tanpa terkecuali untuk diperiksa bersama-sama.

Pak Musa dan Pandi menjadi yang pertama tiba di pelabuhan. Disusul Agus dan Adin, Rahim dan Sabran, lalu Saya dan Pak Cik Karim.

Pak Musa sedang memerika ketam hasil tangkapan bubu perangkap. Foto: Dimas Setiawan

“Nggak ada satu pun ketam bawang, isinya ketam batu semua,” kata Pak Musa, sambil menatap isi bubu dengan pandangan penuh keyakinan. Pak Cik Karim yang baru sampai bersama saya melihat dengan penasaran lalu mengangguk pelan. “Iya, ini ketam batu semua,” tambahnya.

Saya, mencoba memfasilitasi proses belajar bersama dalam sekolah lapangan budidaya ketam ini, “Boleh saya tahu, bagaimana cara mengenali ini ketam batu?”

“Ketam batu itu kecil, seperti ini,” Adin menjelaskan sambil memegang seekor ketam. “Warnanya hijau cerah,” sambung Sabran.

Saya mengangguk pelan, sengaja memberi ruang agar diskusi terus berkembang. “Kalau begitu, ciri ketam bawang seperti apa?”

Pak Karim, yang tampak sedikit tersenyum mendengar pertanyaan itu ikut menjawab. “Kalau ketam bawang itu ukurannya besar dan warnanya gelap, Mas.”

Di sisi lain, Rahim yang mengamati hasil tangkapan dengan saksama tampak bingung. “Tapi kalau melihat hasil tangkapan yang ini, warnanya gelap juga,” katanya, menunjuk salah satu ketam.

Sabran segera menjelaskan, “Iya, warnanya memang mirip ketam bawang. Tapi lihat ukurannya, kecil, kan? Itu bukan ketam bawang. Itu ketam batu.”

Rahim masih penasaran, mengerutkan keningnya. “Terus ketam bawang nggak ada yang kecil, ya?”

Pak Musa, yang sejak tadi banyak mendengar, akhirnya angkat bicara. “Itulah yang menarik, Rahim. Saya yang sudah 52 tahun ini pun belum pernah lihat ketam bawang yang kecil. Kalau warnanya gelap seperti itu, memang mirip, tapi itu ketam batu, bukan ketam bawang.”

Saya tersenyum, memperhatikan cara mereka bertukar pengetahuan. Namun, di dalam benak saya juga merenung. Jangan-jangan masyarakat sebenarnya belum mengetahui ciri khas ketam bawang atau cara membedakannya dengan ketam batu. Jangan-jangan selama ini mereka sering dapat ketam bawang, tapi karena ukurannya kecil, semua dianggap ketam batu.

Pertemuan sekolah lapangan itu akhirnya berakhir dengan kesimpulan yang diambil bersama. Saya menyampaikan “Bapak-bapak dan teman-teman. Memang dalam pemetaan habitat sumber bibit ketam bawang ini kita belum berhasil. Namun, kita jadi paham bahwa mengenal jenis ketam ternyata tidak cukup hanya dengan melihat warna dan ukuran saja. Jangan-jangan kita perlu belajar bareng bagaimana membedakan ketam bawang dan ketam batu”. Para anggota mengangguk pelan. Diskusi ringan itu ternyata menyisakan pemikiran mendalam di benak mereka. Saya yakin, langkah kecil seperti ini adalah awal dari perubahan besar.

Berbekal pengalaman, pembelajaran telah membuahkan hasil (bagian 2)

Hari berikutnya, saya mengajak Nopical, Pandi, dan Rahim pergi ke hutan bakau lagi. Target kami tetap sama, yaitu mendapatkan kepiting bawang. Kali ini, tujuan kami adalah hutan bakau di Sungai Tukong. Dengan jongkong kecil, kami menyusuri jalur air yang tenang di tengah rimbunnya bakau. Perjalanan siang itu terasa damai, hanya suara dayung yang sesekali membelah air dan kicau burung yang menjadi pengiring kami.

Hari ini, saya mengajak mereka mencoba menangkap ketam bawang menggunakan cara yang biasa dilakukan masyarakat setempat—mencari lubang sarang. Dari rombongan ini, hanya Nopical yang paling berpengalaman dalam metode ini. Ia terlihat tenang, membawa “senjatanya” yang sudah disiapkan dengan serius: sebatang besi panjang sekitar satu meter yang ujungnya dibengkokkan sebagai pengait, disambung dengan gagang bambu agar lebih panjang.

“Ciri lubang sarang ketam bawang macam mana, Bang Pical?” tanya Rahim dengan penuh rasa ingin tahu. Nopical tersenyum kecil sambil mengarahkan pandangannya ke hutan bakau. “Biasanya, lubangnya ada di bawah pohon atau batu. Mulut lubangnya itu melebar ke samping, tapi dia sangat dalam bisa sampai 3 meter lebih. Berbeda dengan lubang ketam bungkang atau ketam tiang yang lurus ke bawah.” “Oh, begitu, ya. Saya belum pernah melihat lubang sarang ketam bawang” lanjut Rahim. “Tenang aja, saya sudah tahu tempatnya. Ada beberapa lubang sarang di sini yang kurawat, cuma memang sudah lama nggak kupantau,” jawab Nopical percaya diri.

Sesampainya di area bakau yang dimaksud, Nopical turun dari jongkong dengan langkah pasti. Lumpur yang lengket seakan tak jadi halangan baginya. Ia berjalan ke arah sebuah batu besar yang ada pohon bakau disampingnya. “Ini dia, Him. Lubang sarangnya,” ujar Nopical sambil menunjuk ke sebuah lubang di tanah dengan tongkat pengaitnya.

Rahim segera mendekat. Matanya berbinar seperti anak kecil menemukan mainan baru. “Oh, ini ya? Akhirnya saya pertama kali lihat lubang sarang ketam bawang,” ucapnya, sedikit takjub.

“Kita cek dulu ada nggak dia di dalam,” kata Nopical sambil berlutut dan memasukkan tongkat pengaitnya ke dalam lubang. Ia bekerja dengan penuh konsentrasi, tubuhnya sedikit tengkurap di atas lumpur untuk mendapatkan posisi yang lebih nyaman. Di sampingnya, Pandi sudah bersiap dengan tali pengikat di tangannya.

“Gimana, Bang? Ada isinya nggak?” tanya Pandi penasaran. “Ada ini. Tampaknya besar,” jawab Nopical sambil tetap fokus menggerakkan tongkat pengaitnya. Tangannya bergerak cekatan, mencoba mengait capit atau tubuh ketam yang ada di dalam lubang.

Nopical sedang berusaha menarik keluar ketam bawang dari lubang sarang dan Pandi menyaksikan dengan penuh rasa penasaran. Foto: Bayu Aji Krisandi/Kawungpitu

Detik-detik itu terasa mendebarkan. Semua mata tertuju pada Nopical yang terus berusaha. Tak lama kemudian, dengan gerakan cepat, ia berhasil menarik keluar seekor ketam besar dari dalam lubang. Tubuhnya hitam kemerahan dengan capit yang besar dan kuat.

“Wah, mantap, Bang Pical! Ini dia ketam bawangnya!” seru Pandi sambil bersiap mengikat ketam tersebut dengan tali agar lebih aman. Saya tersenyum puas melihat hasil tangkapan mereka. “Bagus! Ketam bawang yang sempurna untuk pengamatan nanti sore,” ujar saya.

Gambar 5 Ketam bawang hasil tangkapan yang akan diikat oleh Nopical. Foto: Ahmat Rahim

Nopical bangkit dari lumpur, wajahnya penuh kebanggaan meski sedikit belepotan. “Sabar saja, masih banyak lubang sarang di sekitar sini. Kalau beruntung, kita bisa dapat lebih banyak lagi.”

Dengan semangat baru, kami melanjutkan pencarian, menyusuri hutan bakau yang seakan menyembunyikan harta karun di dalam lumpurnya. Namun karena air mulai surut, kami memutuskan untuk kembali pulang. Hari ini menjadi pelajaran berharga, bukan hanya tentang teknik menangkap ketam, tetapi juga tentang kesabaran dan kerjasama dalam memahami ekosistem bakau yang begitu kaya dan menantang.

Sore hari di saung markas, suasana penuh semangat. Proses sekolah lapangan dimulai, dan anggota Pokdaya terlihat sangat antusias. Tidak hanya mereka, masyarakat Desa Langir yang tidak tergabung dalam kelompok pun turut merapat. Kehadiran ketam bawang dan ketam batu yang saya dan Pandi bawa menarik perhatian mereka.

Dengan senyum, saya membuka sesi sore itu. “Sore ini kita akan belajar bareng tentang morfologi ketam bawang dan ketam batu. Kita bagi jadi dua kelompok ya. Setiap tim akan mengamati satu jenis ketam. Amati baik-baik, dan jika perlu, hitung juga jumlah gerigi pada karapasnya,” ujar saya, memberi petunjuk.

Rahim memimpin kelompok pengamatan ketam bawang. Setelah beberapa waktu mengamati dengan saksama, ia berbicara lebih dulu. “Ketam bawang ini punya sepasang capit, tiga pasang kaki jalan, dan sepasang kaki renang,” jelasnya dengan penuh percaya diri.

Di sisi lain, Adin yang memimpin kelompok ketam batu segera merespons. “Sama, Him. Ketam batu ini juga punya sepasang capit, tiga pasang kaki jalan, dan sepasang kaki renang. Jadi, apa bedanya?” tanyanya dengan penasaran.

Pak Musa, yang berdiri di dekat Adin, memberikan pendapatnya. “Ketam batu itu kecil, kalau ketam bawang besar. Karapas ketam bawang juga lebih mengkilap,” katanya dengan yakin.

Saya tersenyum dan menyelipkan pertanyaan. “Jumlah gerigi di karapasnya sudah dihitung?”

Rahim yang paling bersemangat segera menghitung dengan cermat. Setelah beberapa saat, “Sembilan! Ketam bawang ini punya sembilan gerigi di masing-masing sisi karapasnya!” serunya dengan matanya yang berbinar-binar.

Adin, yang memeriksa ketam batu, juga mendapat penemuan. “Oiya, ketam batu ini geriginya cuma lima,” ujarnya sambil menunjukkan hasil pengamatannya.

Pak Karim dan Pak Musa, serta masyarakat lainnya, berkerumun lebih dekat. Mereka ingin memastikan sendiri temuan itu. Satu per satu mereka menghitung gerigi karapas kedua jenis ketam tersebut. “Iya, ya! Ketam bawang ini punya sembilan gerigi, sedangkan ketam batu hanya lima,” gumam Pak Musa dengan nada heran.

Pokdaya bersama masyarakat membuktikan perbedaan ketam bawang dengan ketam batu. Foto: Dimas Setiawan

Rahim tersenyum lebar dan menyimpulkan dengan suara lantang, “Jadi, bukan hanya dari ukuran atau warna yang bisa digunakan untuk membedakan jenis ketam ini. Jumlah gerigi di karapasnya adalah ciri khas yang lebih pasti!”

Pak Karim mengangguk setuju, matanya memandang kedua ketam itu dengan penuh pemahaman baru. “Selama ini kita cuma mengandalkan ukuran dan warna. Ternyata, ada hal lain yang lebih jelas dan bisa dipercaya,” katanya.

Dari proses itu, pemahaman masyarakat mengenai ciri ketam bawang dan ketam batu berubah secara mendalam. Mereka yang sebelumnya hanya membedakan ketam berdasarkan warna dan ukuran kini belajar untuk mengamati lebih teliti. Anggapan bahwa ketam bawang selalu berukuran besar bergeser menjadi keyakinan baru: anakan ketam bawang yang kecil pasti ada, meskipun sekarang belum berhasil ditemukan.

Ketam bawang (kiri) dan ketam batu (kanan). Foto: Dimas Setiawan

Sore itu di saung markas, tidak hanya tawa dan rasa puas yang mengisi suasana, tetapi juga keberhasilan bersama dalam membuka wawasan baru. Pengetahuan ini bukan hanya soal mengenali ketam dengan lebih akurat, tetapi juga tentang upaya membangun hubungan yang erat dan bijak dengan ekosistem bakau yang bisa diandalkan.

Sejak hari itu, kini masyarakat Desa Langir terutama anggota Pokdaya mulai membiasakan diri untuk menghitung jumlah gerigi pada karapas ketam yang tertangkap sebelum menentukan jenisnya. Ketam yang memiliki sembilan gerigi dikenal pasti sebagai ketam bawang, tak peduli ukurannya kecil atau besar, berwarna gelap atau terang. Ketam bawang kecil yang ditemukan, tidak dilepas atau diabaikan, tetapi dimasukkan ke dalam keramba apung untuk dibesarkan hingga siap dijual. Dengan perubahan perilaku peserta sekolah lapangan ini, kita bisa lihat bahwa tujuan pembelajaran dengan sekolah lapangan adalah mengubah cara pikir dengan cara tindak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *