Diferential Optima Pembudidaya Skala Kecil

Oleh: Hariadi Propantoko – Founder Kawungpitu Institute

Anggota Pokdaya Ketam Melakukan Pengecekan Kepiting di Crab Estate

Tulisan ini merupakan refleksi dan mimpi sederhana dari proses pendampingan kepada masyarakat desa Langir di Kepulauan Anambas yang sedang melakukan pengembangan budidaya kepiting bakau dan budidaya lebah madu terminata. Konteks pengembangan budidaya ini dilatarbelakangi oleh bagaimana mengoptimalkan sumber daya ekosistem mangrove yang ada di desa ini. Desa Langir memiliki luasan mangrove yang besar. ekosistem mangrove memiliki manfaat yang besar baik secara ekologi dan ekonomi. Secara ekologi, paling tidak mangrove menjadi tembok hijau yang melindungi pemukiman daratan dari abrasi. Secara ekonomi, mangrove juga menyediakan berbagai jenis biota air yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat.

Pengembangan budidaya ini baru berjalan selama 1 tahun. Enam bulan pertama focus pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat, dari yang belum bisa budidaya menjadi terampil budidaya. Dalam peningkatan keterampilan ini, pembudidaya terorganisir dalam sekolah lapangan ketam dan peket (bahas alokal dari lebah madu). Menurut pengalaman penulis, sekolah lapangan  merupakan bentuk pembelajaran orang dewasa yang efektif. Sekolah lapangan itu santai dan menggembirakan saat dilakukan, namun berdampak dalam peningkatan pengetahuan dan keterampilan. Sekolah lapangan menekankan pada merubah pola fikir dengan atau melalui pola tindak.

Enam bulan berikutnya mereka meneruskan unit kelola budidaya yang menekankan agar bisa panen. Disini memerlukan konsistensi bagi pembudidaya agar benar-benar memelihara unit budidayanya yang dalam bentuk keramba ketam dan rumah lebah bisa di panen.

Masuk tahun ke dua, peningkatan skala produksi perlu ditingkatkan agar bisa mencapai titik efisien dan efektif dalam budidaya. Dalam rangka menuju titik keseimbangan ini, perlu menghitung bahwa setiap kegiatan ekonomi memiliki skala optimum yang berbeda-beda. Unit rumah tangga memiliki skala optimum kecil, berbeda dengan unit industri yang memiliki skala optimum lebih besar. kalau meminjam istilah dari Chayanov, ini yang disebut dengan Diferential optima. Skala pembudidaya kecil ini seperti halnya unit produksi pertanian keluarga, titik optimalnya kecil. Rumah tangga pembudidaya mengatur tenaga kerja sesuai kebutuhan keluarga, tanpa orientasi akumulasi kapital.

Anggota Pokdaya Lebah Madu Melakukan Pemantauan Koloni

Namun, perlu diketahui bersama bahwa pada mata rantai yang lain yang masih dalam 1 siklus rantai produksi kepiting atau madu memiliki titik optima yang lebih besar. Contoh dari mata rantai ini adalah distribusi hasil, kredit modal, pengolahan hasil dan pembelian input. Hal ini dikarenakan oleh adanya  keuntungan skala (economic of scale) dan biasanya terkonsentrasi pada sedikit pelaku yang melayani banyak pengguna manfaat.

Dengan melihat nature budidaya tingkat keluarga, berbudidaya di tingkat keluarga cukup dengan skala kecil. Rumah tangga pembudidaya kecil biasanya mengelola lahan sempit atau dalam konteks budidaya ketam di langir, keramba kepitingnya jumlahnya sedikit. Selain itu, tenaga kerja dalam budidaya ini hanya memaksimalkan anggota keluarga. Dengan unit budidaya yang tidak efektif dan efisien kalau skala terlalu besar. Bertani atau berbudidaya skala besar menambah biaya tenaga kerja dan menyulitkan untuk dikelola.

Namun, masalah yang sering muncul dalam pembudidaya atau petani kecil adalah tidak bisa menjangkau titik optimal di kegiatan non-budidaya (misalnya pemasaran, input budidaya dan distribusi). Akibat dari hal ini adalah mereka menjual hasil panen dalam jumlah kecil dengan harga rendah, selain itu mereka membeli bibit atau input budidaya dalam jumlah kecil disertai dengan harga yang lebih mahal. Nilai tambah terserap oleh pedagang perantara dan peran kapitalis lainnya, bukan oleh pembudidaya atau petani.

Anggota Pokdaya Ketam Melakukan Pemantauan Ketam

Dengan kondisi diferential optima ini, pengorganisasian pembudidaya dalam koperasi bisa jadi opsi agar memungkinkan pembudidaya kecil memperoleh keuntungan skala besar tanpa merubah mereka menjadi kapitalis. Koperasi menjadi instrument kelembagaan ekonomi yang memungkinkan pembudidaya kecil mencapai skala optimal kolektif, tanpa mengorbankan otonomi rumah tangga mereka. Koperasi bisa memungkinkan pembudidaya tetap mandiri di keramba tetapi kuat dalam penyediaan input dan kuat dalam pasar.

Koperasi berperan dalam penyediaan input budidaya secara kolektif. Sehingga belanja input bisa dalam skala lebih besar dan ini bisa lebih efisien pada setiap rumah tangga pembudidaya. Koperasi bisa berperan sebagai aggregator hasil produksi, sehingga produk bisa dalam skala besar dan dapat memiliki posisi tawar yang lebih tinggi di hadapan pembeli. Peran budidaya tetap berada di rumah tangga pembudidaya, hal ini tidak akan mengganggu kemandirian petani namun sekaligus memberi mereka keuntungan dengan menekan biaya input dan meningkatkan harga jual produk. Peluang ini yang dapat meningkatkan keuntungan bagi pembudidaya kecil.

Pada dua paragraf terakhir sebelum paragraf yang paling ini adalah mimpi bagi pembudidaya ketam dan lebah madu di desa langir yang hari ini masih terus menguatkan teknik budidayanya dan terus menjaga ikatan kolektif sebagai modalitas untuk “jembatan” dalam bentuk koperasi agar kondisi produksi  lebih efisien dan mencapai differential optima yang besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *