Oleh: Teman WR Nanta

Yang paling pertama, saya ucapkan Selamat kepada saudara. Semoga ilmu dari kampus benar-benar dapat digunakan oleh petani-petani untuk kemajuan pertanian negeri agraris ini. Wahyu Ridwan Nanta, atau akrab dipanggil Nanta, pada hari ini telah menyelesaikan sidang tesis dengan sukses. Sidang adalah tahapan penting dalam menyelesaikan pendidikan tinggi S2 atau master pada perguruang tinggi. Namun ada hal lain yang jauh lebih penting, yaitu ilmu yang diperoleh dari kampus harus bermanfaat bagi masyarakat, apalagi jika tesis yang bersangkutan ditulis melibatkan petani sebagai subyek dan obyek penelitian. Maka petani-petani ini harus dapat memanfaatkan hasil tesis ini.
Judul tesis saudara Nanta adalah “Kajian Pola Penggunaan, Persepsi Petani, dan kebijakan terhadap Biopestisida dan Tanaman Cabai”. Tesis ini ditulis setelah ia mengambil data di 3 kabupaten. Tesis ini mengelaborasi tantangan petani berupa serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) terhadap tanaman cabai. Gangguan OPT ini secara signifikan menurunkan produksi cabai.
Pengendalian OPT ini Sebagian besar masih dilakukan dengan menggunakan pestisida sintetis, dimana pestisida ini menimbulkan dampak negative bagi agroekosistem. Pestisida sintetis juga menimbulkan biaya tinggi dalam proses produksi padi, sehingga keuntungan yang diperoleh petani sangat rendah.
Biopestisida sebenarnya menjadi alternatif jitu dalam memberantas OPT. namun, untuk mengakses biopestisida ini tidaklah mudah, Nanta menunjukkan dalam tesisnya bahwa sulitnya mengakses biopestisida ini dikarenakan oleh :
- Produk yang masih terbatas di pasaran
- Biopestisida dianggap memerlukan waktu aplikasi khusus
- Hambatan perijinan yang rumit di pemerintah
- Investasi di sector biopestisida masih rendah
- Control mutu di tingkat petani masih lemah dan,
- Infrastruktur belum memadai.
Nanta juga mengatakan dalam tesisnya, bahwa kondisi penggunaan biopestisida saat ini bukan sebagai substitusi pestisida sintetis, namun sebagai komplementer atau pelengkap. Semakin mampu petani membeli input pestisida, maka mereka menggunakan keduanya dalam mengendalikan OPT. Padahal praktik ini bukan langkah yang tepat, makin boros dan hasil tidak optimal.
Situasi kebijakan saat ini sangatlah lemah dalam mengarahkan petani untuk dapat berbudidaya cabai secara baik secara agroekosistem dan inefisien dalam penggunaan input. Agar Biopestisida bermanfaat bagi petani memiliki prasyarat, yaitu petani harus benar faham dan tahu mengenai fungsi dan cara penggunaan biopestisida. Kementerian Pertanian yang memiliki mandat untuk hal ini berkewajiban memberikan penyuluhan yang tepat agar hal ini dapat terjadi, petani lebih efisien dalam penggunaan input yang berarti pendapatan bisa lebih meningkat serta kualitas agroekosistem bisa terjaga kelestariannya.
Ditulis oleh: Teman Nanta